RESUM TEORI KOGNITIF DAN PENERAPAN DALAM PEMBELAJARAN

Nama               : MEGAH SRI RETNO APRILIANA
Nim                 : 150341608081
Offering          : B
Kelompok       :10

Pemerintah telah melakukan berbagai cara untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia dan untuk menyiapkan masa depan bangsa kepada generasi muda. Peningkatan mutu pendidikan sangat dibutuhkan agar masyarakat semakin memahami pentingnya Ilmu Pengetahuan dalam menghadapi tantangan dunia. Pembelajaran tidak hanya didapatkan hanya didalam kelas saja, melainkan dapat diperoleh di luar kelas atau ruangan. Belajar adalah suatu proses seseorang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan, dan sikap (Gredler, 1991). Belajar merupakan hal yang penting dalam kehidupan karena dengan belajar kita bisa mendapat ilmu pengetahuan dan informasi yang bermanfaat. Belajar dapat dimulai sejak kecil hingga dewasa. Bahkan menurut Kholidah (2012) menuntut ilmu dimulai dari dalam perut ibu hingga sampai liang lahat.
Menurut Degeng (1989;1990) pembelajaran didefinisikan sebagai upaya membelajarkan siswa, dimana dalam pembelajaran ini terdapat metode dan strategi yang optimal  untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Hasil pembelajaran yang baik tentunya akan membawa dampak yang baik pula bagi siswa tersebut. pembelajaran dapat dilakukan dengan berbagai model pembelajaran yang bisa menarik minat siswa mengenai mateeri teersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Corebima (1999) yang menyatakan bahwa implementasi proses pembelajaran di kelas perlu diterapkan model pembelajaran  yang membuat siswa aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan dapat tercapai. Meskipun demikian, hingga saat ini pemberdayaan penalaran siswa dalam pembclajaran  masih rendah.
Pembelajaran yang ada pada kenyataannya dalam pelaksanaan proses pembelajaran maupun evaluasinya terbukti belum optimal dalam pelaksanaannya. Hal ini dibuktikan dengan adanya aspek penalaran tidak pcrnah dikelola secara langsung, terencana atau terprogram, sehingga hal ini pun juga berdampak kepada para siswa yang artinya siswa tidak bisa beerpikir kritis. Akhirnya siswa tersebut menjadi malas dalam pembeelajaran. Riset dan eksperimen psikologi pendidikanmembuktikan bahwa dengan diarahkannya siswa pada pemahaman yang lebih baik maka akan tercapainya pe­mahaman yang lebih luas dan mendalam. Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar. Karena kemampuan berubahlah, manu­sia secara bebas dapat mengeksplorasi, me­milih, dan menetapkan keputusan-keputusan penting untuk kehidupannya. Edward Thorn­dike (1993) memprediksikan, “jika ke­mampuan bela­jar umat manusia dikurangi setengahnya saja maka peradaban yang ada sekarang tak akan ada gunanya bagi generasi mendatang, bahkan mungkin peradaban itu sendiri akan lenyap di­telan zaman”  (Chaplin, 1972).
Teori Kognitif berasal dari kata “Cognition” yang padanannya “Knowing”, berarti menge­tahui. Dalam arti luas, cognition (kognisi) ialah perolehan, penataan dan penggunaan penge­tahuan (Neissser, 1976).  Sedangakan secara meneyeluruhIstilah cognitive of theory learning” yaitu suatu bentuk teori belajar yang berpandangan bahwa belajar adalah merupakan proses pemusatan pikiran (kegiatan mental) (Slavin (1994).  Teori kognitif ini mengajarkan bahwa setiap individu memiliki kemampuan yang sangat potensial sehingga potensi bisa diketahui dengan cara dilatih. Dalam proses belajar dan pembelajaran yang terpenting adalah proses belajar dari pada hasil belajarnya.
Teori Kognitif dibagi menjadi sebagai berikut :
1. Piaget
         Menurut Piaget perkembangan kognitif me­rupakan suatu proses genetik, artinya proses yang didasarkan atas mekanisme biologis yaitu perkembangan sistim syaraf. Dengan semakin ber­tambahnya usia sesesorang maka semakin komplekslah susunan sel syarafnya dan makin meningkat pula kemampuannya. Semakin banyak pengalaman yang didapatkan, maka pengetahuanpun semakin luas. Pengalaman-pengalaman belajar yang sesuai dikembangkan dengan memperhatikan tahap fungsi kognitif dan jika guru penuh perhatian terhadap pendekatan yang digunakan siswa untuk sampai pada kesimpulan tertentu, barulah dapat dikatakan guru berada dalam posisi memberikan pengalaman yang dimaksud. Guru harus memahami cara belajar yang baik untuk siswa, sehingga antara guru dengan siswa dapat terjadi interaksi yang membangun minat belajar siswa. Hal ini juga didukung oleh Makka (2013) yang berpendapat bahwa anak dapat membangun sendiri pengetahuannya dari pengalamannya dengan lingkungan. Dalam pandangan Piaget, pengetahuan datang dari tindakan, perkembangan 
Menurut Jean Piaget (1975) salah seorang penganut aliran kognitif yang kuat, bahwa proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan, yakni 1). Asimilasi, 2). Akomodasi, dan 3). Equilibrasi (penyeimbangan). Proses asimilasi adalah proses penyatuan (pengintegrasian) informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada dalam benak siswa. Akomodasi adalah penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru. Equilibrasi adalah penyesuain berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi.
Menurutnya intelegensi terdiri dari tiga aspek yaitu : a), struktur disebut juga dengan scheme yag memungkinkan individu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, b) disebut juga dengan content yaitu pola tingkah laku spesifik tatkala idividu menghadapi suatu masalah., c) fungsi ; disebut juga function, yang berhubungan dengan cara seseorang mencapai kemajuan intelektual. Aplikasi praktisnya dalam pembelajaran menuntut keterlibatan menuntut keterlibatan peserta didik secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Dengan demikian proses asimilasi (informasi lama disatukan sehingga menyat dengan informasi baru), dan akomodasi (mengubah atau membentuk) pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik.Piaget membagi tahap-tahap perkembangan kognitif menjadi empat, yaitu:
a.              Tahap sensorimotorik (umur 0-2 tahun)
Ciri pokok perkembangan berdasarkan tindakan, dan dilakukan selangkah demi selangkah. 
b.      Tahap preoperasional (umur 2-7/8 tahun)
Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah penggunanaan symbol atau tanda bahasa, dan mulai berkembangnya konsep-konsep intuitif.
c.       Tahap operasional konkret (umur 7/8-11/12 tahun)
Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah sudah mulai menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis, dan ditandai adanya reversible dan kekekalan.
d.      Tahap operasional formal (umur 11/12-18 tahun)
Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah anak sudah mampu berpikir abstrak dan logis dengan menggunakan pola berpikir “kemungkinan”.

2. Burner
Menurut Jeerome S. Bruner berpendapat bahwa manusia adalah sebagai pemroses, pemikir,  dan pencipta informasi (Dahar, 1988). Bruner ini menekankan pada pengaruh kebudayaan dan berbanding terbalik dengan Piaget yang menyatakan bahwa perkembangan kognitif berpengaruh pada perkembangan bahasa seseorang, sedangkan Bruner menyata­kan bahwa perkembangan bahasa besar pe­nga­ruh­nya ter­hadap perkembangan kognisi.
Teori kognitif Burner bertitik tolak pada teroi belajar kognitif yang menyatakan belajar dalah perubahan perseppsi dan pemahaman. Perubahan ini tidak perlu berbentuk perubahan tingkah laku yang dapat diamati. Asumsi dasar teori kognitif ini adalah setiap orang memiliki pengetahuan dan pengalaman di dalam dirinya. Pengetahuan dan pengalaman ini tertata dalam bentuk struktur kognitif. Discovery learning yaitu murid mengorganisasi bahan yang akan dipelajari dengan sat bentuk akhir. Banyak pendapat yang mendukung discovery learning diantaranya adalah J. Dewey (1933), ia mengemukakan bahwa mata pelajaran dapat diajarkan secara efektif dalam bentuk intelektual sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Menurut burner untuk belajar sesuatu tidak usah ditunggu sampai peserta didik mencapai tahap perkembangan tertentu. Perkembangan kognitif seseorang dapat ditingkatkan dengan jalan mengatur bahan belajar yng akan dipelajari dan menyajikannya sesuai dengan tingkat perkembangannya. Bruner melihat perkembangan kognisi seseorang menjadi 3 tahapan diantaranya
a)    Tahap pertama adalah tahap en-aktif, di mana indi­vidu melakukan aktivitas-aktivitas untuk me­mahami lingkungannya.
b)   Tahap kedua adalah tahap ikonik di mana ia melihat dunia atau lingkungannya melalui gambar-gambar atau visualisasi verbal.
c)    Tahap terakhir adalah tahap simbolik, di mana ia mempunyai gagasan secara abstrak yang banyak di­pengaruhi bahasa dan logika; komunikasi di­lakukan dengan bantuan sistem simbol.

3. Teori Belajar Menurut Ausebel
Menurut ausebel belajar haruslah bermakna, materi yang dipelajari diasimilasikan secara non arbitrer dan berhubungan dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. Menurut Reilly dan Lewis (1983) ada dua persyaratan untuk membuat materi pelajaran bermakna, yaitu :
a)      pilih materi yang secara potensial bermakna lalu diatur sesuai dengan
      tingkat perkembangan dan pengetahuan masa lalu,
b)   diberikan dalam situsi belajar yang bermakna.
Prinsip-prinsip teori belajar bermakna Ausebel ini dapat diterapkan dalam proses pembelajaran melalui tahap-tahap sebagai berikut :
1.            Mengukur kesiapan peserta didik  seperti minat, kemampuan dan struktur kognitifnya melalui tes awal, interview, pertanyaan-pertanyaan dll.
2.            Memilih materi kunci lal penyajiannya diatur mulai dengan contoh-contoh konkret dan kontroversial.
3.            Mengidentifikasi prinsip-prinsip yang harus dikuasai dari materi baru itu.
4.            Menyajikan suatu pandangan secara menyeluruh tentang apa yang harus dipelajari
5.            Membelajarkan peserta didik memahami konsep dan prinsip-pprinsip yang ada dengan memberikan fokus pada hubungan – hubungan yang ada.
Secara garis besar langkah-langkah pembelajaran bermakna menurut Ausebel dalam merancang pembelajaran adalah :
1.            Menentukan tujuan pembelajaran
2.            Melakukan identifikasi karakteristik kepada peserta didik (kemampuan awal, motivasi, minat, gaya belajar, dsb.
3.            Memilih materi pembelajaran dan mengaturnya dalam bentuk konsep-konsep inti
4.            Menentukan topik-topik yang dapat dipelajari peserta didik dalam bentuk advance organizer.
5.            Mengembangkan bahan belajar yang berupa contoh-contoh ilustrasi, tugas, dsb untuk dipelajari peserta didik
6.            Mengatur topik-topik pembelajaran dari yang sederhana ke yang kompleks
7.            Melakukan penilaian hasil belajar.

Penerapan teori kognitif dalam pembelajaran
1.      Pengalaman tilikan (insight); Tilikan bisa disebut juga pemahaman mengamati. Dalam proses belajar, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu mengenal keterkaitan unsur-unsur suatu objek atau peristiwa.
2.      Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); dalam hal ini unsur-unsur yang bermakna akan sangat menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Hal ini akan sangat bermanfaat dan membantu peserta dalam menangani suatu masalah.
3.      Perilaku bertujuan (pusposive behavior);suatu perilaku akan terarah pada tujuan. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika para peserta didik mengerti tujuan yang ingin dicapainya.
4.      Prinsip ruang hidup (life space); perilaku individu memiliki hubungan dengan tempat dan lingkungan dia berada.
5.      Transfer dalam belajar; yaitu proses pemindahan pola tingkah laku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain.






Komentar