RESUM PEMBELAJARAN KOOPERATIF


NAMA            : MEGAH SRI RETNO APRILIANA
NIM                : 150341608081
OFFERING    :  B

Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu bentuk yang di dasarkan pada paham kontruktivisme, yang berpandangan bahwa siswa  diberi kesempatan agar menggunakan secara sadar strateginya sendiri dalam belajar, sedangkan guru membimbing siswa ke tingkat pengetahuan yang lebih tinggi (Slavin, 1994; Abruscato, 1999). Jadi siswa disini dalam kata lain harus membangun pengetahuannya sendiri, namun tetap mendapat bimbingan dari guru. Pembelajaran kooperatif memiliki unsur-unsur yang melibatkan guru harus memiliki tanggung jawab terhadap siswanya atau peserta didik lain dalam kelompoknya, selain tanggung jawab terhadap diri sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi. Para siswa harus memiliki pandangan bahwa mereka semua memiliki tujuan yang sama. Para siswa membagi tugas dan berbagi tanggungjawab di antara para anggota kelompok. Para siswa diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh terhadap evaluasi kelompok. Para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerja sama selama belajar. Setiap siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif. Pembelajaran kooperatif memiliki ciri yang penting yaitu setiap anggota kelompok haruslah memiliki peran masing-masing, terjadi hbungan interaksi seecara langsung, setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan juga teman-teman sekelompoknya, guru membantu mengembangkan keterampilan-keterampilan interpersonal kelompok, guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan.  Menurut Slavin (1995) bahwa model pembelajaran kooperatif memiliki tiga konsep utama yang penting, yaitu:
1. Penghargaan kelompok Pembelajaran kooperatif menggunakan tujuan-tujuan kelompok untuk memperoleh penghargaan kelompok. Penghargaan kelompok diperoleh jika kelompok mencapai skor di atas kriteria yang ditentukan. Keberhasilan kelompok didasarkan pada penampilan individu sebagai anggota kelompok dalam menciptakan hubungan antar personal yang saling mendukung, saling membantu, dan saling peduli.
2. Pertanggungjawaban individu Keberhasilan kelompok tergantung dari pembelajaran individu dari semua anggota kelompok. Pertanggungjawaban tersebut menitikberatkan pada aktivitas anggota kelompok yang saling membantu dalam belajar.
3. Kesempatan yang sama untuk mencapai keberhasilan Pembelajaran kooperatif menggunakan metode skoring yang mencakup nilai perkembangan berdasarkan peningkatan prestasi yang diperoleh siswa dari yang terdahulu. Dengan menggunakan metode skoring ini setiap siswa baik yang berprestasi rendah, sedang, atau tinggi sama-sama memperoleh kesempatan untuk berhasil dan melakukan yang terbaik bagi kelompoknya.
Adanya pembelajaran kooperatif ini bertujuan untuk menciptakan situasi tentang keberhasilan setiap orang yang ditentukan oleh keberhasilan kelompoknya. Menurut Ibrahim, et al. (2000) tujuan pembelajaran kooperatif ada 3 jenis yaitu:
1.      Hasil belajar akademik
            Dalam belajar kooperatif mencakup beragam tujuan sosial yang juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Pada  pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.
2.      Penerimaan terhadap perbedaan individu
Tujuan lain model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya. Artinya pembelajaran kooperatif ini memberi peluang pada siswa lain untuk bekerja sama untuk menyeleesaikan  tugas-tugas akademik.
3.      Pengembangan keterampilan sosial
            Tujuan penting ketiga pembelajaran kooperatif adalah, mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial, penting dimiliki oleh siswa sebab saat ini banyak anak muda masih kurang dalam keterampilan sosial.
Pembejaran kooperatif memiliki beberapa model atau tipe  pembelajaran, diantaranya seebagai berikut:
1.      Student Teams Achievement Division (STAD)
STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya yang  merupakan pendekatan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. STAD, mengacu kepada belajar kelompok siswa, menyajikan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu menggunakan presentasi verbal atau teks. Siswa dalam suatu kelas tertentu dipecah menjadi kelompok dengan anggota 4-5 orang, setiap kelompok haruslah heterogen, terdiri dari laki-laki dan perempuan, berasal dari berbagai suku, memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Anggota tim menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain untuk menuntaskan materi pelajarannya dan kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pelajaran melalui tutorial, kuis, satu sama lain dan atau melakukan diskusi. Secara individual setiap minggu atau setiap dua minggu siswa diberi kuis. Kuis itu diskor, dan tiap individu diberi skor perkembangan.
2.      Investigasi Kelompok
Merupakan model ini dikembangkan pertama kali oleh Thelan. Model pembelajaran kooperatif yang paling kompleks dan paling sulit untuk diterapkan. Model ini dikembangkan pertama kali oleh Thelan. Pada tipe ini siswa harus ikut terlibat dalam perencanaan baik topik yang dipelajari maupun  jalannya penyelidikan mereka. Dalam penerapan investigasi kelompok ini guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 5 atau 6 siswa yang heterogen. Dalam beberapa kasus, kelompok dapat dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban persahabatan atau minat yang sama dalam topik tertentu. Selanjutnya siswa memilih topik untuk diselidiki, melakukan penyelidikan yang mendalam atas topik yang dipilih itu, kemudian  menyiapkan dan mempresentasikan laporannya kepada seluruh kelas.
3.      Pendekatan Struktural
 Pendekatan ini dikembangkan oleh Spencer Kagen dan kawan-kawannya. pendekatan ini memberi penekanan pada penggunaan struktur tertentu yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Struktur tugas yang dikembangkan oleh Kagen ini dimaksudkan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional, seperti resitasi, di mana guru mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas dan siswa memberi jawaban setelah mengangkat tangan dan ditunjuk. Pada pendekatan ini diharapkan siswa dapat  bekerja dengan saling  membantu dalam kelompok kecil.
4.      Jigsaw
Jigsaw dikembangkan pertama kali dan diujicobakan oleh Elliot Aronson dan teman-teman di Universitas Texas, dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopkins. Menurut  Arends (1997) Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengarjarkan bagian tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw yaitu  siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari  5 dan  6 orang secara heterogen dan bekerjasama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain. 

Komentar